Showing posts with label biodata. Show all posts
Showing posts with label biodata. Show all posts

Biodata Nia Ramadhani

Ini dia spesifikasi salah satu artis ibukota negara kita...

Nama lahir Priyanti Nur Ramadhani
Lahir 16 April 1990 (umur 18) Jakarta, Indonesia
Pekerjaan aktris
Tahun aktif 2000 - sekarang

Nia Ramadhani yang memiliki nama lengkap Prianti Nur Ramadhani (lahir di Jakarta, 16 April 1990; umur 18 tahun). Nia dan kakaknya (Thalita) dibesarkan oleh ibunya, setelah orang tua mereka, Priya Ramadhani dan Chanty Mercia, bercerai saat Nia berusia 4 tahun.

Nia mengawali karir di dunia akting sejak berusia 15 tahun. Namanya mulai melambung saat membintangi sinetron Bawang Merah Bawang Putih. Dalam sinetron ini, Nia beradu akting dengan aktor kawakan Dwi Yan, Dimaz Andrean serta Revalina S Temat. Sampai tahun 2007, lebih dari 10 sinetron dia bintangi. Tak puas bermain di layar kaca, Nia menjajal kemampuan akting di film layar lebar. Tahun 2007, Nia bersama bintang-bintang muda lainnya seperti Mike Lewis, Donita, dan Lia Waode bermain di film Suster Ngesot yang disutradarai Arie Aziz. Dalam debut film perdananya, penyuka warna putih ini dituntut untuk melakukan adegan ciuman dengan artis pendatang baru, Mike Lewis, seorang model berdarah Kanada. Setelah bermain dalam Suster Ngesot, Nia bermain lagi dalam film horor, Hantu Jembatan Ancol (2008) dan tampil seksi dengan bikini. Bahkan ibundanya menyatakan tak suka dengan 'penampilan terbuka' Nia. Masih di tahun yang sama, Nia bermain dalam film horor juga Kesurupan. Menjelang perilisan film ini, di Internet beredar foto-foto Nia memakai bikini berpose bersama beberapa pria di kolam renang. Namun, kehebohan tersebut hanya ditanggapi dingin oleh Nia dan dia menyatakan wajar memakai bikini di kolam renang.

Nia pernah berpacaran dengan penyanyi R&B, Ressa Herlambang. Hubungan mereka tidak berlangsung lama. Nia kemudian menjalin kasih dengan pacar barunya, Bambang Reguna Bukit atau yang lebih akrab dipanggil Bams, salah satu personel grup musik Samsons. Hubungan mereka pun tak lama dan diwarnai isu adanya orang ketiga. Setelah itu Nia dikabarkan dekat dengan putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan juga dengan keponakan calon gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Adnan Puritcha Ichfan Yasin Limpo.

Menjelang perilisan film KESURUPAN yang dibintanginya bersama Andhika Pratama, dunia internet dihebohkan dengan foto-foto Nia yang mengenakan bikini dan berpose bersama cowok-cowok macho di kolam renang. Namun Nia menanggapi dingin tersebarnya foto tersebut, dan menganggap wajar berbikini di kolam renang.

Kisah Wong Fei Hung

Sudah banyak orang yang tahu bahwa tokoh bahari legendaris asal Cina, Sam Poo Kong alias Muhammad Cheng Ho adalah seorang Muslim. Namun nampaknya masih banyak yang belum tahu bahwa masih banyak tokoh China legendaris yang ternyata beragama Islam. Dua di antaranya ialah Wong Fei Hung dan Judge Bao.

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin.

Biodata Olga Saputra

Yoga Syahputra atau lebih dikenal dengan nama Olga Syahputra (lahir di Jakarta, 8 Februari 1983; umur 25 tahun) adalah seorang aktor dan pembawa acara Indonesia. Olga acapkali berperan waria hampir di setiap penampilannya. Namun Olga menampik kalau dirinya memiliki orientasi seksual menyimpang.

Sejarah Karier
Sulung dari tujuh bersaudara pasangan Nur Rachman dan Nurhida ini awalnya hanya penggemar yang sering meminta tanda tangan serta foto bareng idolanya. Keberuntungan menghampiri saat dirinya ditawari bermain di film Lenong Bocah. Sayangnya cowok berdarah Padang-Jawa ini diharuskan ikut latihan terlebih dahulu di Sanggar Ananda. Karena tak punya uang, Olga terpaksa menjual kulkas demi membayar kursus di Sanggar Ananda. Sahabat Olga, Bertrand Antolin yang kemudian mengulurkan bantuan dengan membelikan Olga kulkas baru.

Selama aktif di Sanggar Ananda, Olga juga sering ikut syuting meski hanya peran-peran minor. Olga juga pernah menjadi asisten penyanyi Rita Sugiarto. Ketekunan Olga berbuah manis. Setelah sempat berperan di sinetron Kawin Gantung dan Si Yoyo, Olga menjadi presenter Ngidam di SCTV berpasangan dengan Jeremy Thomas. Olga juga bermain di acara komedi Jangan Cium Gue dan disusul Extravanganza ABG. Bergabung dengan Extravanganza ABG di tahun 2005, nama Olga mulai dikenal. Namanya benar-benar melambung setelah di awal 2007 bergabung bersama Indra Bekti dan Indy Barends di acara Ceriwis

BIOGRAPHY

Olga Syahputra, dikenal sebagai presenter kocak, justru ?karena kepiawaiannya itulah yang akhirnya membawanya ?menjadi presenter terkenal.

Awalnya, kehadiran Olga Syahputra di lokasi syuting ?hanyalah sebagai penggemar yang ingin meminta tanda tangan ?serta foto bareng idolanya yang sedang syuting kala itu. ?

Namun, tak disangka jika sekarang sulung dari tujuh ?bersaudara pasangan Nur Rachman dan Nurhida ini malah ?terjun ke dunia yang sama dengan idolanya tersebut.“Waktu ?itu, ada yang nawarin aku main di film Lenong Bocah. Tapi ?katanya, aku harus ikut latihan dulu di Sanggar Ananda,” ?ungkap Olga.?

Jika ingat masa-masa sulitnya dulu, pemilik nama asli Yoga ?Syahputra ini tak kuasa menahan air mata. Pasalnya, ia ?sempat harus menjual kulkas demi membayar biaya kursusnya ?di Sanggar Ananda. ?

Beruntunglah, ia punya sahabat seperti Bertrand Antolin. ?Mendengar kesusahan Olga, Bertrand dengan segera ?mengulurkan tangan, memberikan sejumlah uang kepada cowok ??23 tahun ini untuk membeli kulkas baru.?

Selama aktif di Sanggar Ananda, Olga sering juga ikut ?syuting. Namun, kala itu, cowok berdarah Padang dan Jawa ?ini hanya mendapat peran-peran kecil yang sekedar numpang ?lewat. Banyak cerita pahit yang Olga peroleh di masa-masa ?ia mulai merintis karir. ?

?“Yah, kalaupun Olga muncul, palingan jadi peran yang ?diinjak tubuhnya, karena sang ratu tak ingin bajunya kotor ?kena kubangan air. Pernah juga, Olga yang baru nyampe di ?rumah jam 10 malam, ditelpon mendadak. Katanya ada syuting ?di Tangerang. Gak tahunya, kaki Olga doank yang disorot,” ?tuturnya, dengan suara sedikit sedih.?

Pengidola sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini ?mengaku jika terkadang ia masih sering tidak percaya jika ?kini ia bias seperti sekarang. Terkadang, sebelum tidur, ?penyuka kerupuk ini memanjatkan rasa syukurnya kepada Sang ?Pencipta. “Ya Allah, terimakasih ya Allah, atas semua yang ?sudah Olga dapat selama ini,” paparnya, dengan mimik ?serius.

Biarpun sekarang ia sudah terkenal, namun cowok yang hobi ?berenang dan akting ini tidak pernah berubah. Olga tetaplah ?rendah hati.

Ia selalu menyempatkan diri untuk melayani penggemar-?penggemar yang ingin bertemu serta ingin berfoto bareng. ?Bahkan, pendukung acara komedi ‘Extravaganza ABG’ ini tidak ?segan-segan melayani seorang penggemarnya yang mendatangi ?rumahnya pagi-pagi untuk bertemu dengan dirinya. ?

?“Pernah ada nenek-nenek yang ngetok pintu rumah gue. Pagi ?banget. Udah gue pulang pagi, ada nenek ngetok. Olga, saya ?mau ketemu sama Olga. Sini dong Ga, duduk Ga. Kita ngobrol, ?gitu kata si nenek. Dalam hati gue, Ya Allah Bu, entar ?dulu, gak tahu gue pulang pagi? Tidur dulu bentar. Tapi dia ?udah dateng jauh2, pengen ngobrol sama gue, akhirnya gue ?tanggepin,” ujarnya. ?

Saat ini, di tengah kesibukannya menjadi ‘MC’ (Master of ?Ceremony) di berbagai acara, baik ‘off air’ maupun ‘on ?air’, penyuka warna biru dan hijau ini punya kesibukan ?baru. Ia tengah asyik menggarap naskah ‘Lenong Bocah’ yang ?akan tayang dalam waktu dekat. Seperti yang dituturkannya ?via telepon kepada Krosceknews.com, Senin, (11/6) lalu. ?
Rosa Hilda/ Renty/ Berbagai Sumber

Sinetron :
• Si Yoyo
• Kawin Gantung
• Jablay

Film :
• Susahnya jadi Perawan’
• Tina Toon dan Lenong Bocah : The Movie

Komedi :
• Lenong Bocah
• Extravaganza ABG
• Ceriwis
• Jangan Cium Gue

Sumber:
wikipedia
kroscek

Arti DeJavu

Hampir semua dari kita pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu:
Sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton.

Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.

Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri?

Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif

Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.

Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.

Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.

Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium

Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.

Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.


Sumber :
http://www.indospiritual.com/artikel_misteri-deja-vu.html
http://www.livescience.com

Prestasi Indonesia di Bidang Radar

Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.

Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.

”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.

”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.

Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.

Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.

Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.

”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.

Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.

”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.


Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.

”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.

Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia

Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.

”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.

Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya. (Tonny D Widiastono, Kompas, Selasa, 29 Juli 2008)

Biodata Pak SBY

Nama : Susilo Bambang Yudhoyono
Alamat Asal : Bogor
Tempat Tanggal Lahir : Pacitan, 9 September 1949;

Cerita Singkat :

Dilahirkan di Pacitan, Jawa Timur kepada Raden Soekotjo dan Siti Habibah, SBY menyertai dunia ketenteraan mengikut jejak ayahnya. Pada tahun 1973, beliau lulus dari akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dengan penghargaan "Adhi Makayasa" sebagai murid lulusan terbaik dan "Tri Sakti Wiratama" yang merupakan prestasi gabungan mental, fizikal, dan intelek yang tertinggi.

Dalam tempoh antara 1974 dan 1976, SBY memulakan kerjayanya dengan Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Kemudian pada tahun 1976, beliau belajar di Sekolah Bawaan Udara dan Renjer Tentera Amerika Syarikat, serta menyertai banyak lagi kursus untuk kemajuan diri. Sila lihat: Pendidikan SBY. SBY ditugaskan untuk operasi-operasi di Timor-Timur pada tempoh 1979-1980 dan 1986-1988.

Dari 1989 ke 1993), SBY bertugas sebagai Pensyarah Seskoad Korspri Pangab, Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994, Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995) serta Ketua Pemerhati Tentera bagi Pengaman Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). Kelulusan SBY dari Kolej Pegawai Perintah dan Turus, Fort Leavenwort, Kansas, Amerika Syarikat, serta Saujana Sasteranya (MA) dari Universiti Webster Pengurusan (Management Webster University), Missouri, Amerika Syarikat juga membantu kerjayanya di Kasdam Jaya (1996), Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda, Ketua Fraksi ABRI MPR pada Sidang Istimewa MPR tahun 1998, dan Ketua Staf Wilayah (Kaster ABRI) dari 1998 ke 1999.

Pada tahun 1997, SBY diangkat sebagai Ketua Angkatan Bersenjata dan Staf Urusan Sosial dan Politik. Kerjaya tenteranya terhenti ketika beliau dilantik oleh Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pelombongan dan Tenaga pada 26 Oktober 1999, dan Menteri Penyelaras Politik, Sosial, dan Keamanan. Perlantikan itu terjadi sewaktu Presiden Abdurrahman Wahid berada di "hujung tanduk". SBY mundur daripada jawatan-jawatan tersebut pada 11 Mac 2004 sewaktu pimpinan pemerintahan dikendalikan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri kerana dicalonkan oleh Parti Demokrat sebagai calon presiden.

SBY memperoleh kedoktorannya (PhD) dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 3 Oktober 2004. Pada 15 Desember 2005, beliau menerima doktor kehormat dalam bidang ilmu politik dari Universiti Thammasat Bangkok (Thailand). Dalam ucapannya sewaktu menerima anugerah tersebut, beliau menegaskan bahawa politik merupakan seni untuk perubahan dan transformasi dalam sebuah negara demokrasi yang damai. Beliau tidak yakin sepenuhnya bahawa politik adalah ilmu.

Dalam Persidangan Istimewa Parliamen Rakyat] pada akhir Julai 2001, SBY menjadi calon Naib Presiden. Walaupun tidak terpilih, nama SBY tetap bersinar. Dalam kabinet Megawati-Hamzah, SBY dilantik semula sebagai Menkopolkam, satu jawatan yang strategik. Semasa tempoh perjawatannya itu, SBY mengendalikan banyak kes yang harus diselesaikan, terutama kes-kes mengenai Aceh, Poso, dan Maluku. Beliau memainkan peranan yang besar dalam menentukan darurat tentera di Aceh dan Maluku. SBY juga memainkan peranan yang besar dalam perjanjian Malino untuk menyelesaikan pertikaian di Poso.

Dalam pilihan raya umum 2004, SBY menewaskan Megawati Sukarnoputri dan menjadi ketua negara Indonesia.

Dalam kehidupan peribadinya, SBY berkahwin dengan Kristiani Herawati, anak ketiga kepada Almarhum Jen. (Purn) Sarwo Edhi Wibowo, komandan RPKAD (kini Kopassus) yang membantu menumpaskan Parti Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Mereka dikurniakan dengan dua orang anak lelaki: Agus Harimurti Yudhoyono, dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Prestasi :

Pendidikan
1973: Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri)
1976: Kursus Bahasa Amerika, Lackland, Texas, Amerika Syarikat
1976: Kursus Bawaan Udara dan Renjer, Fort Benning, Amerika Syarikat
1982-1983: Kursus Lanjutan Pegawai Infantri, Fort Benning, Amerika Syarikat
1983: Latihan semasa kerja dalam Bahagian Bawaan Udara ke-82, Fort Bragg, Amerika Syarikat
1983: Sekolah Peperangan Hutan, Panama
1984: Kursus Senjata Anti Kereta Kebal di Belgia dan Jerman
1985: Kursus Komando Batalion
1988-1989: Sekolah Komando Angkatan Darat
Kolej Pegawai Perintah dan Turus, Fort Leavenwort, Kansas, Amerika Syarikat
Saujana Sastera (MA) dari Universiti Webster Pengurusan (Management Webster University), Missouri, Amerika Syarikat
2004: Kedoktoran dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kerjaya
1974-1976: Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad
1976-1977: Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad
1977: Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad
1977-1978: Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad
1979-1981: Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad
1981-1982: Paban Muda Sops SUAD
1983-1985: Komandan Sekolah Pelatih Infantri
1986-1988: Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana
1988: Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana
1989-1992: Pensyarah Seskoad
1993: Korspri Pangab
1993-1994: Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad
1994-1995: Asops Kodam Jaya
1995: Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro
November 1995 - : Ketua Pemerhati Tentera bagi Pengaman Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNPF) di Bosnia-Herzegovina
1996: Kasdam Jaya (hanya lima bulan)
1996- Pangdam II/Sriwijaya merangkap Ketua Bakorstanasda
1998: Ketua Fraksi ABRI MPR (Persidangan Khas MPR 1998)
1998-1999: Ketua Staf Wilayah (Kaster ABRI)
26 Oktober 1999 - : Mentamben
Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid)
Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri) mengundurkan diri 11 Mac 2004

Penugasan
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988

Anugerah Susilo Bambang Yudhoyono
1973: Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fizikal, dan Intelek)
1973: Adhi Makayasa (kelulusan terbaik Akabri
1976: Satya Lencana Seroja
1983 Siswazah Kepujian IOAC, Amerika Syarikat
1985: Satya Lencana Dwija Sista
1989: Kelulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI
1989: Pensyarah Terbaik Seskoad
1996: Satya Lencana Santi Dharma
1996: Satya Lencana Pengaman Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNPF)
1996: Satya Lencana Pihak Berkuasa Peralihan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu di Slavonia Timur, Baranja, dan Sirmium Barat (UNTAES)
1998: Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
1998: Bintang Yudha Dharma Nararya
1998: Sayap Penerbang TNI-AU
1998: Sayap Kapal Selam TNI-AL
1999: Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
1999: Bintang Yudha Dharma Pratama
1999: Bintang Dharma
1999: Bintang Maha Putera Utama
2003: Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik
2005: Bintang Asia (Star of Asia) oleh BusinessWeek
2006: Bintang Kehormat Darjah Kerabat Laila Utama oleh Sultan Brunei
2008: Darjah Utama Seri Mahkota Negara oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin