Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Sejarah Earth Day

Semua orang pasti pernah denger yang namanya Earth Day, alias hari bumi. Beberapa hari yang lalu, sebagian dari kita pun turut berpartisipasi dengan mematikan listrik di malam hari selama kurang lebih 3 stengah jam...

Awal mula gerakan lingkungan pada 22 April 1970 ketika seorang Senator AS dari Wisconsin bernama Gaylord Nelson diselenggarakan pertama nasional lingkungan protes. Sedikit ia tahu pada saat itu selama 39 tahun pada 22 April environmentalists dari seluruh dunia akan datang bersama-sama untuk fokus pada Ibu Bumi seperti yang kita merayakan hari Bumi.

1970 di Amerika, menggunakan leaded gas di sedans didukung oleh mesin V8. Pabrik-pabrik yang melelahkan mustahil jumlah polusi ke udara tanpa hasil atau bahkan takut akan semakin buruk tekan, sebenarnya polusi udara umumnya telah diterima sebagai bau kesejahteraan.

Ini semua adalah tentang perubahan.

Pada hari yang fatal 39 tahun lalu, 20 juta orang Amerika itu ke jalan-jalan, taman, di sekolah dan kampus di auditoriums untuk membuat suara mereka didengar oleh mereka yang menginginkan lingkungan yang sehat. Pada masa lalu terdapat berbagai kelompok yang berjuang secara terpisah terhadap hal-hal seperti minyak dan beracun spills kesedihan, kehilangan dan gurun pemadaman masalah, tapi pada satu hari ini mereka semua bersatu dan dop dihidupkan untuk mereka. Bekerja sama dan mendukung satu sama lain akan menjadi penyebab utama untuk membuat tingkat perubahan yang diperlukan terjadi.

Pada hari yang langka alignment politik telah dicapai, baik Republicans dan Demokrat yang mendukung isu-isu yang sama. Tycoons bisnis dan serikat buruh sepakat dengan satu sama lain, warga negara AS baik kaya dan miskin, kota dan petani dwellers dikenal dengan masalah lingkungan sebagai perbedaan yang lebih besar dari mereka, dan memilih untuk bekerja sama. Hal ini menyebabkan penciptaan di Amerika Serikat dan Badan Perlindungan Lingkungan pada gilirannya petikan dari Clean Air, Air Bersih, dan Endangered Species bertindak. Pada tahun untuk mengikuti Senator Nelson yang akan diberikan Presiden Medal of Freedom untuk perannya sebagai pendiri Bumi hari.

Ia pada tahun 1990 ketika seorang pemimpin kelompok lingkungan tamtama Denis Hayes, salah satu penyelenggara asli yang protes 1970, untuk mengambil Bumi hari misi ke panggung global. 22 April 1990 menghasilkan monumental shift bagi dunia. Pada hari itu terdapat lebih dari 200 juta orang dimobilisasi di 141 negara. Orang di seluruh dunia dibangun dengan realisasi bahwa kita semua dapat perang dalam peperangan dan kami mungkin berbeda dalam agama, dan tidak berbicara bahasa yang sama, tetapi kita semua ada satu hal penting dalam umum, tetapi kami memiliki satu planet kita semua panggilan rumah . Setelah itu perayaan hari khusus Bumi pada tahun 1990, konsep daur ulang menjadi suatu kegiatan yang usaha dan rumah tangga di seluruh dunia akan datang untuk melakukan dan menerima mengadopsi sebagai status quo. Acara ini juga membantu membuka jalan bagi PBB 1992 Bumi Summit di Rio de Janeiro.

Sepuluh tahun kemudian dan dengan pendekatan dari milenium, Hayes memutuskan untuk taraf berikutnya monumental promosi. Hari Bumi 2000 akan fokus pada pemanasan global dan energi bersih. Bahwa 22 April dunia awoke untuk acara-acara yang mirip dengan yang asli di Hari Bumi 1970, digabungkan dengan internasional upaya akar rumput yang event 1990 dan sekarang kekuatan Internet untuk membantu mereka menghubungkan aktivis di seluruh penjuru planet ini. Tahun itu terdapat lebih dari 5.000 kelompok lingkungan di seluruh dunia yang berpartisipasi, menjangkau ratusan juta orang di 184 negara.

Hari Bumi 2000 dikirim ke pesan jelas bahwa kekuasaan berada, dua hal; pemanasan global tidak lagi bisa diabaikan, dan tindakan tegas untuk membersihkan energi harus mendorong ke garis terdepan.

Hari ini berjuang untuk bersih, lebih global lingkungan terus berkelanjutan. Ini adalah peperangan yang setiap upah kami setiap hari. Kami sedang berjuang ketika kita tarik kami diisi bins daur ulang kami curbsides, dan bila kita berikan kepada tetangga kita yang naik untuk bekerja. Ketika kami membawa kami ke dalam mangkuk sendiri kedai kopi, atau kami memilih untuk mengambil sepotong sampah yang tertinggal di pinggir oleh seseorang sebelum kami. Kami telah datang jauh dalam 39 tahun terakhir, namun belum ada masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Pada 22 April, 2009, kami mengambil waktu untuk berkumpul, merayakan apa yang telah kita tercapai dan mendidik tentang apa yang masih perlu dilakukan. Kita harus memberdayakan dan memotivasi semua orang dari kita ke generasi berikutnya rouge bangsa dengan pemberian kesadaran dan harapan untuk masa depan.

Oleh Charisse McAuliffe, Pendiri dan CEO GenGreen LLC

Nyi Roro Kidul

Siapakah sesungguhnya Kanjeng Ratu Kidul itu? Benarkah ada dalam kesungguhannya, ataukah hanya dikenal dalam dongeng saja?

Pertanyaan ini pantas timbul, karena Kanjeng Ratu Kidul termasuk makhluk halus. Hidupnya di alam gaib, dansukar untuk dibuktikan dengan nyata. Pada umumnya orang mengenalnya hanya dari tutur kata dan dari semua cerita atau kata orang ini, orang itu, bila dikumpulkan akan menjadi seperti berikut:

Menurut cerita umum, Kanjeng Ratu Kidul pada mudanya bernama Dewi Retna Suwida, seorang putri dari Pajajaran, anak Prabu Mundhingsari, dari istrinya yang bernama Dewi Sarwedi, cucu Sang Hyang Saranadi, cicit Raja siluman di Sigaluh.

Sang putri melarikan diri dari keraton dan bertapa di gunung Kombang. Selama bertapa ini sering nampak kekuatan gaibnya, dapat berganti rupa dari wanita menjadi pria atau sebaliknya. Sang putri wadat (tidak bersuami) dan menjadi ratu diantara makhluk halus seluruh pulau jawa. Istananya didasar samudra indonesia. Tidaklah mengherankan, karena sang putri memang mempunyai darah keturunan dari makhluk halus.

Diceritakan selanjutnya, bahwa setelah menjadi raru sang putri lalu mendapat julukan Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari. Ada juga sementara orang yang menyebut Nyai Lara Kidul (di keraton surakarta sebutan Nyai Lara Kidul adalah untuk patihnya, bukan untuk Kanjeng Ratu Kidul sendiri). Malahan ada juga yang menyebutnya Nyira Kidul. Dan yang menyimpang lagi adalah: Bok Lara Mas Ratu Kidul. Kata “Lara” berasal dari “Rara”, yang berarti perawan (tidak kimpoi).

Dikisahkan, bahwa Dewi Retna Suwida yang cantiknya tanpa tanding itu menderita sakit budhug (lepra). Utuk mengobatinya harus mandi dan merendam diri didalam suatu telaga, di pinggir samudra. Konon pada suatu hari, tatkala akan membersihkan muka sang putri melihat bayangan mukanya di permukaan air. Terkejut karena melihat mukanya yang sudah rusak, sang putri lalu terjun kelaut dan tidak kembali lagi ke daratan, dan hilanglah sifat kemanusiaannya serta menjadi makhluk halus.

Cerita lain lagi menyebutkan bahwa sementara orang ada yang menamakannya Kanjeng Ratu Angin-angin. Sepanjang penelitian yang pernah dilakukan dapat disimpulakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul tidaklah hanya menjadi ratu makhluk halus saja melainkan juga menjadi pujaan penduduk daerah pesisir pantai selatan, mulai darah Jogjakarta sampai dengan Banyuwangi.

Camat desa Paga menerangkan bahwa daerah pesisirnya mempunyai adat bersesaji ke samudra selatan untuk Nyi Rara Kidul. Sesajinya diatur didalam rumah kecil yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut (sanggar). Juga pesisir selatan Lumajang setiap tahun mengadakan korban kambing untuknya dan orang pun banyak sekali yang datang.

Mr Welter, seorang warga belanda yang dahulu menjadi Wakil ketua Raad van Indie, menerangkan bahwa tatkala ia masih menjadi kontrolir di Kepanjen, pernah melihat upacara sesaji tahunan di Ngliyep, salah satu pesisir pantai selatan, Jawa timur, yang khusus diadakan untuk Nyai rara kidul. Ditunjukkannya gambar sebuah rumah kecil dengan bilik di dalamnya berisi tempat peraduan dengan sesaji punjungan untuk Nyai Rara Kidul.

Seorang perwira ALRI yang sering mengadakan latihan didaerah ngliyep menerangkan bahwa di pulau kecil sebelah timur ngliyep memang masih terdapat sebuah rumah kecil, tetapi kosong saja sekarang. Apakah rumah ini terlukis gambar Tuan Welter, belumlah dapat dipastikan.

Pengalaman seorang kenalan dari Malang menyebutkan bahwa pada tajun 1955 pernah ada serombongan oran-orang yang nenepi (pergi ke tempat-tempat sepi dan keramat) dipulau karang kecil, sebelah timur Ngliyep.

Seorang diantara mereka adalah gurunya. Dengan cara tanpa busana mereka bersemadi disitu. Apa yang kemudian terjadi ialah, bahwa sang guru mendapat kemben, tanpa diketahui dari siapa asalnya. Yang dapat diceritakannya ialah bahwa ia merasa melihat sebuah rumah emas yang lampunya bersinar-sinar terang sekali.

Dipacitan ada kepercayaan larangan untuk memakai pakaian berwarna hijau gadung (hijau lembayung), yang erat hubungannya dengan Nyai Rara Kidul. Bila ini dilanggar orang akan mendapat bencana. Ini di buktikan denga terjadinya suatu malapetaka yang menimpa suami-istri bangsa belanda beserta dua orang anaknya. Mereka bukan saja tidak percaya pada larangan tersebut, bahkan mengejek dan mencemoohkannya. Pergilah mereka kepantai dengan berpakaian serba hijau. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, karena tiba-tiba ombak besar datang dan dan kembalinya kelaut sambil menyambar keempat orang belanda tersebut.

Sejarah

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.

Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta

Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?

Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.

Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.

Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

Biodata Pak SBY

Nama : Susilo Bambang Yudhoyono
Alamat Asal : Bogor
Tempat Tanggal Lahir : Pacitan, 9 September 1949;

Cerita Singkat :

Dilahirkan di Pacitan, Jawa Timur kepada Raden Soekotjo dan Siti Habibah, SBY menyertai dunia ketenteraan mengikut jejak ayahnya. Pada tahun 1973, beliau lulus dari akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dengan penghargaan "Adhi Makayasa" sebagai murid lulusan terbaik dan "Tri Sakti Wiratama" yang merupakan prestasi gabungan mental, fizikal, dan intelek yang tertinggi.

Dalam tempoh antara 1974 dan 1976, SBY memulakan kerjayanya dengan Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Kemudian pada tahun 1976, beliau belajar di Sekolah Bawaan Udara dan Renjer Tentera Amerika Syarikat, serta menyertai banyak lagi kursus untuk kemajuan diri. Sila lihat: Pendidikan SBY. SBY ditugaskan untuk operasi-operasi di Timor-Timur pada tempoh 1979-1980 dan 1986-1988.

Dari 1989 ke 1993), SBY bertugas sebagai Pensyarah Seskoad Korspri Pangab, Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994, Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995) serta Ketua Pemerhati Tentera bagi Pengaman Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). Kelulusan SBY dari Kolej Pegawai Perintah dan Turus, Fort Leavenwort, Kansas, Amerika Syarikat, serta Saujana Sasteranya (MA) dari Universiti Webster Pengurusan (Management Webster University), Missouri, Amerika Syarikat juga membantu kerjayanya di Kasdam Jaya (1996), Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda, Ketua Fraksi ABRI MPR pada Sidang Istimewa MPR tahun 1998, dan Ketua Staf Wilayah (Kaster ABRI) dari 1998 ke 1999.

Pada tahun 1997, SBY diangkat sebagai Ketua Angkatan Bersenjata dan Staf Urusan Sosial dan Politik. Kerjaya tenteranya terhenti ketika beliau dilantik oleh Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pelombongan dan Tenaga pada 26 Oktober 1999, dan Menteri Penyelaras Politik, Sosial, dan Keamanan. Perlantikan itu terjadi sewaktu Presiden Abdurrahman Wahid berada di "hujung tanduk". SBY mundur daripada jawatan-jawatan tersebut pada 11 Mac 2004 sewaktu pimpinan pemerintahan dikendalikan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri kerana dicalonkan oleh Parti Demokrat sebagai calon presiden.

SBY memperoleh kedoktorannya (PhD) dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 3 Oktober 2004. Pada 15 Desember 2005, beliau menerima doktor kehormat dalam bidang ilmu politik dari Universiti Thammasat Bangkok (Thailand). Dalam ucapannya sewaktu menerima anugerah tersebut, beliau menegaskan bahawa politik merupakan seni untuk perubahan dan transformasi dalam sebuah negara demokrasi yang damai. Beliau tidak yakin sepenuhnya bahawa politik adalah ilmu.

Dalam Persidangan Istimewa Parliamen Rakyat] pada akhir Julai 2001, SBY menjadi calon Naib Presiden. Walaupun tidak terpilih, nama SBY tetap bersinar. Dalam kabinet Megawati-Hamzah, SBY dilantik semula sebagai Menkopolkam, satu jawatan yang strategik. Semasa tempoh perjawatannya itu, SBY mengendalikan banyak kes yang harus diselesaikan, terutama kes-kes mengenai Aceh, Poso, dan Maluku. Beliau memainkan peranan yang besar dalam menentukan darurat tentera di Aceh dan Maluku. SBY juga memainkan peranan yang besar dalam perjanjian Malino untuk menyelesaikan pertikaian di Poso.

Dalam pilihan raya umum 2004, SBY menewaskan Megawati Sukarnoputri dan menjadi ketua negara Indonesia.

Dalam kehidupan peribadinya, SBY berkahwin dengan Kristiani Herawati, anak ketiga kepada Almarhum Jen. (Purn) Sarwo Edhi Wibowo, komandan RPKAD (kini Kopassus) yang membantu menumpaskan Parti Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Mereka dikurniakan dengan dua orang anak lelaki: Agus Harimurti Yudhoyono, dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Prestasi :

Pendidikan
1973: Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri)
1976: Kursus Bahasa Amerika, Lackland, Texas, Amerika Syarikat
1976: Kursus Bawaan Udara dan Renjer, Fort Benning, Amerika Syarikat
1982-1983: Kursus Lanjutan Pegawai Infantri, Fort Benning, Amerika Syarikat
1983: Latihan semasa kerja dalam Bahagian Bawaan Udara ke-82, Fort Bragg, Amerika Syarikat
1983: Sekolah Peperangan Hutan, Panama
1984: Kursus Senjata Anti Kereta Kebal di Belgia dan Jerman
1985: Kursus Komando Batalion
1988-1989: Sekolah Komando Angkatan Darat
Kolej Pegawai Perintah dan Turus, Fort Leavenwort, Kansas, Amerika Syarikat
Saujana Sastera (MA) dari Universiti Webster Pengurusan (Management Webster University), Missouri, Amerika Syarikat
2004: Kedoktoran dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kerjaya
1974-1976: Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad
1976-1977: Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad
1977: Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad
1977-1978: Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad
1979-1981: Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad
1981-1982: Paban Muda Sops SUAD
1983-1985: Komandan Sekolah Pelatih Infantri
1986-1988: Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana
1988: Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana
1989-1992: Pensyarah Seskoad
1993: Korspri Pangab
1993-1994: Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad
1994-1995: Asops Kodam Jaya
1995: Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro
November 1995 - : Ketua Pemerhati Tentera bagi Pengaman Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNPF) di Bosnia-Herzegovina
1996: Kasdam Jaya (hanya lima bulan)
1996- Pangdam II/Sriwijaya merangkap Ketua Bakorstanasda
1998: Ketua Fraksi ABRI MPR (Persidangan Khas MPR 1998)
1998-1999: Ketua Staf Wilayah (Kaster ABRI)
26 Oktober 1999 - : Mentamben
Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid)
Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri) mengundurkan diri 11 Mac 2004

Penugasan
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988

Anugerah Susilo Bambang Yudhoyono
1973: Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fizikal, dan Intelek)
1973: Adhi Makayasa (kelulusan terbaik Akabri
1976: Satya Lencana Seroja
1983 Siswazah Kepujian IOAC, Amerika Syarikat
1985: Satya Lencana Dwija Sista
1989: Kelulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI
1989: Pensyarah Terbaik Seskoad
1996: Satya Lencana Santi Dharma
1996: Satya Lencana Pengaman Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNPF)
1996: Satya Lencana Pihak Berkuasa Peralihan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu di Slavonia Timur, Baranja, dan Sirmium Barat (UNTAES)
1998: Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
1998: Bintang Yudha Dharma Nararya
1998: Sayap Penerbang TNI-AU
1998: Sayap Kapal Selam TNI-AL
1999: Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
1999: Bintang Yudha Dharma Pratama
1999: Bintang Dharma
1999: Bintang Maha Putera Utama
2003: Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik
2005: Bintang Asia (Star of Asia) oleh BusinessWeek
2006: Bintang Kehormat Darjah Kerabat Laila Utama oleh Sultan Brunei
2008: Darjah Utama Seri Mahkota Negara oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin