Komik digemari oleh berbagai macam kalangan masyarakat. Melalui komik, masyarakat dapat mengenal budaya atau malah menciptakan budaya. Topik inilah yang diangkat menjadi tema pameran komik mahasiswa se-Bandung yang bertempat di CC Barat ITB pada tanggal 12-19 Desember 2008. Acara ini merupakan bagian dari program kerja KM ITB kementerian Seni dan Budaya bidang Kajian Propaganda. Memasyarakatkan komik menjadi tujuan utama dalam pameran komik ini.
Diadakan pula talkshow mengenai komik dan budaya pada hari Jumat (12/12/08) pukul 16.00 WIB dengan pembicara Haji Pidi Baiq (Komikus Senior), Alvanov Zpalanzani (dosen Desain Komunikasi Visual ITB) dan Azizah Noor (Komikus Mahasiswa). Satu pembicara lainnya, Yasraf Amir Piliang (dosen Desain Produk ITB) berhalangan hadir. Topik yang dibahas dalam talkshow kali ini adalah 'apa pengaruh komik pada budaya? Lalu, bagaimana komik berkorelasi dan merepresentasikan budaya indonesia?'
Alvanov menanggapinya dengan memberi contoh melalui tampilan sinetron masa kini. Seringkali, seragam murid SMA digambarkan dengan model seragam yang jauh lebih modis daripada seragam putih abu-abu yang sebenarnya, seperti yang digambarkan pada komik-komik Jepang pada umumnya. Hal tersebut membuat kita yang tadinya merasa tidak familiar dengan motif seragam modis tersebut, lama kelamaan menjadi terbiasa. Melalui perumpamaan tersebut, Alvanov ingin menyampaikan bahwa komik itu menjajah alam sadar kita tanpa kita sadari, sehingga budaya-budaya asing mudah mempengaruhi komik hasil karya anak bangsa yang seharusnya dapat lebih orisinal.
Pidi Baiq berpendapat lain dengan tidak memusingkan hal tersebut. Kendala komikus-komikus anak bangsa yang belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dikarenakan ketidakpercayaan diri untuk mengekspresikan sesuatu yg berbeda di dalam karyanya, malah mengikuti budaya yang sudah ada. Penyebabnya adalah rasa takut dikritik setelah mempublikasikan karya. Padahal untuk membentuk suatu budaya baru, rasa kepercayaan diri adalah yang terpenting.
Azizah Noor menambahkan bahwa komik memang memberi pengaruh pada budaya dan budaya pun bisa terintegrasi dalam komik, dan menceritakan pengalaman pribadinya saat membuat komik. Namun, menurut Ahmad Zuhdi Allam (AR 06) sebagai Deputi Kajian Propaganda kementrian Seni dan Budaya, gol yang diharapkan dalam talkshow kali ini belum kesampaian karena keterbatasan waktu. Diharapkan acara tersebut dapat kembali diadakan tahun depan.
Dalam KOMIKULTUR ini turut serta berpartisipasi dalam pameran dan bursa komik Komunitas Cergam Bandung (KCB) MANYALA, BANGOR, dan komunitas komik Bandung lainnya.
Showing posts with label prestasi. Show all posts
Showing posts with label prestasi. Show all posts
Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia
Share, salah satu unit kegiatan mahasiswa ITB yang memfokuskan diri pada riset, kembali menyelenggarakan presentasi terbuka, kali ini mengangkat topik "Nuclear Power Plant For Electricity in Indonesia", Sabtu (06/12) lalu. Presentasi diisi oleh perwakilan Share Energy Network, Siti Reiwanti Auliyani (MIPA'08), perwakilan Social Issue Network, Gladys Emmanuella Putri Langi (SITH'08), dan dilanjutkan oleh Kepala Laboratorium Nuklir Fisika ITB, Dr. Zaki Su'ud M. Eng. Presentasi diarahkan seputar prospek nuklir sebagai pembangkit listrik di Indonesia dari segi teknologi, keamanan, sosial, dan lingkungan.
Dalam kajian Energy Network yang disampaikan Siti Reiwanti, produksi energi Indonesia tahun 1999-2010 terus menurun dari 1480 hingga 1050 MBOPD (Thousand Barrels of Oil Per Day).Sementara, konsumsi energi terus meningkat dari 980-1650 MBOPD.Beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatra Barat, dan Riau,bahkan mengalami Break Event Point (BEP) dalam hal ketahanan listrik.
Saat ini, di dunia telah dibangun 443 Pembangkit Listrik Tenaga Listrik Nuklir dengan total kapasitas 376 GW. Asia, ternyata merupakan regional di dunia yang mengalami perkembangan signifikan dalam hal energi nuklir. Di Asia Timur dan Selatan telah beroperasi 109 reaktor nuklir, 18 pada tahap pembangunan, dan lebih dari 110 reaktor pada tahap perencanaan.Di Indonesia,Reaktor Nuklir Triga Mark 2000 yang berlokasi di Bandung menghasilkan power output 2000KW pada tahun 2000, reaktor nuklir Kartini yang beroperasi di Yogyakarta menghasilkan power output 100KW,dan reaktor nuklir G.A.Siwabessy yang berlokasi di Serpong, Tanggerang menghasilkan power output 30 MW.
Prinsip kerja reaktor, seperti yang dipaparkan Zaki Su'ud, berawal dari reaksi fisi beruntun, yaitu reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Satu gram Uranium-235 dapat menghasilkan 81,97 Giga Joule energi atau setara dengan keluaran daya 1MW day.
Dalam hal sistem pengendalian nuklir, bila jumlah netron dari waktu ke waktu bertambah, reaktor dalam kedaan super kritis (daya meningkat) maka batang kendali masuk dalam teras dan penyerapan netron akan lebih intensif sehingga populasi netron akan cenderung menurun dan daya akan turun. Bila jumlah netron dari waktu ke waktu menurun, reaktor dalam keadaan sub kritis (daya menurun)maka batang kendali ditarik keluar teras dan penyerapan netron berkurang sehingga populasi netron cenderung meningkat dan menyebabkan kenaikan daya. Bila jumlah netron dari waktu ke waktu stabil maka reaktor dalam keadaan kritis, sistem batang kendali yang akan mengontrol posisi penyerap netron yang kuat(Misal B-10) masuk atau keluar teras reaktor. Beberapa alternatif sistem pengendalian reaktor diantaranya memanfaatkan umpan balik reaktivitas-perubahan temperatur dan parameter lain dari teras dimanfaatkan untuk mengendalikan teras-, menggunakan sistem reflektor-pada beberapa reaktor inovatif-, dan menggunakan komponen pasif.
Standar-standar dalam pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir diantaranya reaktor nuklir merupakan produk yang dikontrol internasional dengan sangat ketat sehingga jaminan kualitasnya termasuk yang paling baik diantara produk-produk industri yang ada. Selain itu, standar-standar dan prosedur termasuk dalam hal pengoperasian dan sistem keselamatan harus diterapkan dengan sempurna agar izin pengoperasian dapat berjalan secara lancar.
Dari segi sosial dan lingkungan, Gladys memaparkan Nuclear Waste dapat di-recycle setelah dilakukan treatment atau distorasi setelah dikonsentrasikan. Negara yang telah menerapkan metode ini diantaranya Inggris dan Prancis. Di Indonesia, kegiatan memproses limbah radioaktif tengah dilakukan oleh Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) di Serpong, Banten, dibawah kendali Badan Tenaga Atom Nasional (Batan)
Dalam kajian Energy Network yang disampaikan Siti Reiwanti, produksi energi Indonesia tahun 1999-2010 terus menurun dari 1480 hingga 1050 MBOPD (Thousand Barrels of Oil Per Day).Sementara, konsumsi energi terus meningkat dari 980-1650 MBOPD.Beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatra Barat, dan Riau,bahkan mengalami Break Event Point (BEP) dalam hal ketahanan listrik.
Saat ini, di dunia telah dibangun 443 Pembangkit Listrik Tenaga Listrik Nuklir dengan total kapasitas 376 GW. Asia, ternyata merupakan regional di dunia yang mengalami perkembangan signifikan dalam hal energi nuklir. Di Asia Timur dan Selatan telah beroperasi 109 reaktor nuklir, 18 pada tahap pembangunan, dan lebih dari 110 reaktor pada tahap perencanaan.Di Indonesia,Reaktor Nuklir Triga Mark 2000 yang berlokasi di Bandung menghasilkan power output 2000KW pada tahun 2000, reaktor nuklir Kartini yang beroperasi di Yogyakarta menghasilkan power output 100KW,dan reaktor nuklir G.A.Siwabessy yang berlokasi di Serpong, Tanggerang menghasilkan power output 30 MW.
Prinsip kerja reaktor, seperti yang dipaparkan Zaki Su'ud, berawal dari reaksi fisi beruntun, yaitu reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Satu gram Uranium-235 dapat menghasilkan 81,97 Giga Joule energi atau setara dengan keluaran daya 1MW day.
Dalam hal sistem pengendalian nuklir, bila jumlah netron dari waktu ke waktu bertambah, reaktor dalam kedaan super kritis (daya meningkat) maka batang kendali masuk dalam teras dan penyerapan netron akan lebih intensif sehingga populasi netron akan cenderung menurun dan daya akan turun. Bila jumlah netron dari waktu ke waktu menurun, reaktor dalam keadaan sub kritis (daya menurun)maka batang kendali ditarik keluar teras dan penyerapan netron berkurang sehingga populasi netron cenderung meningkat dan menyebabkan kenaikan daya. Bila jumlah netron dari waktu ke waktu stabil maka reaktor dalam keadaan kritis, sistem batang kendali yang akan mengontrol posisi penyerap netron yang kuat(Misal B-10) masuk atau keluar teras reaktor. Beberapa alternatif sistem pengendalian reaktor diantaranya memanfaatkan umpan balik reaktivitas-perubahan temperatur dan parameter lain dari teras dimanfaatkan untuk mengendalikan teras-, menggunakan sistem reflektor-pada beberapa reaktor inovatif-, dan menggunakan komponen pasif.
Standar-standar dalam pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir diantaranya reaktor nuklir merupakan produk yang dikontrol internasional dengan sangat ketat sehingga jaminan kualitasnya termasuk yang paling baik diantara produk-produk industri yang ada. Selain itu, standar-standar dan prosedur termasuk dalam hal pengoperasian dan sistem keselamatan harus diterapkan dengan sempurna agar izin pengoperasian dapat berjalan secara lancar.
Dari segi sosial dan lingkungan, Gladys memaparkan Nuclear Waste dapat di-recycle setelah dilakukan treatment atau distorasi setelah dikonsentrasikan. Negara yang telah menerapkan metode ini diantaranya Inggris dan Prancis. Di Indonesia, kegiatan memproses limbah radioaktif tengah dilakukan oleh Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) di Serpong, Banten, dibawah kendali Badan Tenaga Atom Nasional (Batan)
Filem Dark Knight Mendapat Penghargaan
The Dark Knight, rupanya, benar-benar menjadi favorit banyak orang. Kemarin film yang dibintangi Christian Bale dan mendiang Heath Ledger itu menang besar di ajang People's Choice Awards. Film sekuel Batman tersebut meraih lima penghargaan sekaligus. Di antaranya, film favorit, superhero favorit, dan bintang pemeran favorit (selengkapnya lihat grafis, Red).
"Atas nama semua pendukung The Dark Knight, saya mengucapkan terima kasih untuk penggemar," kata Bale saat menerima trofi film terfavorit. "Ini untuk Heath," tambah Bale.
Memang, sejak diputar tahun lalu, banyak yang menyebut The Dark Knight layak mendapat penghargaan. Terutama, Oscar -penghargaan tertinggi di dunia perfilman Hollywood yang diberikan tiap tahun melalui Academy Awards. Apalagi, akting mendiang Heath sebagai Joker dinilai lebih bagus daripada pemeran-pemeran sebelumnya. Sayang, Heath meninggal Januari tahun lalu, bahkan sebelum filmnya diputar.
Kemenangan itu bisa jadi menguntungkan The Dark Knight. Sebab, 22 Januari nanti, Academy Awards akan mengumumkan nominenya. Pemenang bakal diketahui sebulan kemudian. Makin sering The Dark Knight mendapat penghargaan, masyarakat yang menjadi juri Oscar kian mudah mengingatnya, dan ujung-ujungnya, memilih mereka sebagai film terbaik.
Selain The Dark Knight, mereka yang menang besar di People's Choice edisi ke-35 itu adalah penyanyi country Carrie Underwood. Dia mendapat tiga People's Choice Awards. Yaitu, penyanyi perempuan favorit, lagu favorit, dan bintang di bawah 35 tahun. "Fans dan orang yang memilih saya adalah orang yang membuat saya berada di karir seperti ini," kata Underwood seperti dikutip kantor berita Reuters kemarin (8/1).
Acara yang berlangsung di Shrine Auditorium, Los Angeles, AS, itu berlangsung cukup santai. Banyak bintang film yang datang dengan pakaian kasual. "Liburan baru saja usai. Jadi, saya masih ingin tampil santai. Saya tidak mau pakai gaun atau apa pun yang menyiksa badan saya," kata Katherine Heigl, pemeran film komedi 27 Dresses yang kemarin datang dengan mengenakan celana panjang.
The Secret Life of Bees terpilih sebagai film drama dan film independen favorit, sedangkan film animasi WALL-E terpilih sebagai film keluarga favorit mengalahkan Kung Ku Panda. Adam Sandler yang baru saja merilis film Bedtime Stories terpilih sebagai bintang pria terlucu.
Untuk acara televisi, drama yang bertema dunia kesehatan House terpilih sebagai serial drama favorit. Lalu untuk serial komedi, terpilih nama Two and a Half Men.
sumber : jawapos
"Atas nama semua pendukung The Dark Knight, saya mengucapkan terima kasih untuk penggemar," kata Bale saat menerima trofi film terfavorit. "Ini untuk Heath," tambah Bale.
Memang, sejak diputar tahun lalu, banyak yang menyebut The Dark Knight layak mendapat penghargaan. Terutama, Oscar -penghargaan tertinggi di dunia perfilman Hollywood yang diberikan tiap tahun melalui Academy Awards. Apalagi, akting mendiang Heath sebagai Joker dinilai lebih bagus daripada pemeran-pemeran sebelumnya. Sayang, Heath meninggal Januari tahun lalu, bahkan sebelum filmnya diputar.
Kemenangan itu bisa jadi menguntungkan The Dark Knight. Sebab, 22 Januari nanti, Academy Awards akan mengumumkan nominenya. Pemenang bakal diketahui sebulan kemudian. Makin sering The Dark Knight mendapat penghargaan, masyarakat yang menjadi juri Oscar kian mudah mengingatnya, dan ujung-ujungnya, memilih mereka sebagai film terbaik.
Selain The Dark Knight, mereka yang menang besar di People's Choice edisi ke-35 itu adalah penyanyi country Carrie Underwood. Dia mendapat tiga People's Choice Awards. Yaitu, penyanyi perempuan favorit, lagu favorit, dan bintang di bawah 35 tahun. "Fans dan orang yang memilih saya adalah orang yang membuat saya berada di karir seperti ini," kata Underwood seperti dikutip kantor berita Reuters kemarin (8/1).
Acara yang berlangsung di Shrine Auditorium, Los Angeles, AS, itu berlangsung cukup santai. Banyak bintang film yang datang dengan pakaian kasual. "Liburan baru saja usai. Jadi, saya masih ingin tampil santai. Saya tidak mau pakai gaun atau apa pun yang menyiksa badan saya," kata Katherine Heigl, pemeran film komedi 27 Dresses yang kemarin datang dengan mengenakan celana panjang.
The Secret Life of Bees terpilih sebagai film drama dan film independen favorit, sedangkan film animasi WALL-E terpilih sebagai film keluarga favorit mengalahkan Kung Ku Panda. Adam Sandler yang baru saja merilis film Bedtime Stories terpilih sebagai bintang pria terlucu.
Untuk acara televisi, drama yang bertema dunia kesehatan House terpilih sebagai serial drama favorit. Lalu untuk serial komedi, terpilih nama Two and a Half Men.
sumber : jawapos
Arti DeJavu
Hampir semua dari kita pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu:
Sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton.
Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.
Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri?
Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif
Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.
Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.
Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.
Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.
Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium
Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.
Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.
LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.
Sumber :
http://www.indospiritual.com/artikel_misteri-deja-vu.html
http://www.livescience.com
Sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton.
Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.
Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri?
Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif
Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.
Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.
Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.
Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.
Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium
Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.
Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.
LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.
Sumber :
http://www.indospiritual.com/artikel_misteri-deja-vu.html
http://www.livescience.com
Prestasi Indonesia di Bidang Radar
Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.
Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.
”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.
”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.
Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.
Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.
Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.
”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.
Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.
”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.
Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.
”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.
Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia
Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.
”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.
Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya. (Tonny D Widiastono, Kompas, Selasa, 29 Juli 2008)
Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.
”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.
”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.
Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.
Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.
Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.
”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.
Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.
”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.
Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.
”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.
Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia
Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.
”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.
Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya. (Tonny D Widiastono, Kompas, Selasa, 29 Juli 2008)